Tuesday, April 15, 2014

Beberapa hari ini ramai pemeberitaan seorang anak TK yang mengalami pelecehan seksual di sekolah Internasional. Saya membaca anak laki-laki yang mendapat pelecehan seksual di sekolahnya itu sampai mengalami penyakit kelami herpes. Si anak tidak berani melaporkan kepada orang tuanya sampai anak tersebut jadi takut ke sekolah khususnya ke kamar mandi sekolah. sehingga dia memencet penisnya agar bisa pipis dan tidak perlu pipis di sekolah. Di tubuhnya juga terdapat mememar karena pukulan dan pelakunya lebih dari satu orang.

Saya juga pernah menangani konseling seorang anak perempuan yang dilecehkan oleh ayah temannya di sekolah ketika jam sekolah usai dan dia menunggu jemputan. Meskipun belum terjadi penetrasi tetapi sudah membuat anak tersebut jadi takut sekolah dan selalu minta ditunggui kalau di sekolah.

Menurut Komisi Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat terjadi 3.039 kasus pelecehan seksual terhadap anak sepanjang tahun 2013. Ironisnya, pelaku pelecehan adalah orang-orang dekat korban.

Kita tidak mungkin menjaga anak kita seharian atau mengkuatirkan keamanan anak kita setiap waktu. Untuk mencegah anak kita menjadi korban pelecehan seksual kita harus mengajari anak kita tentang bagaimana agar mereka mengerti apa yang harus dilakukan dan berani menceritakan kepada anda sebagai orang tua bila terjadi sesuatu terhadap dirinya. Dibawah ini ada beberapa tips yang saya ambil dari somesecret.com tentang key body safety skills. Sadar atau tidak budaya Indonesia susah sekali orang tua membicarakan soal seks kepada anaknya. Jadi skills apa yang harus kita ajarkan kepada anak kita.

1.     Ketika anak mulai usia 3th – 5th kita bisa mulai mengenalkan anggota tubuh kita, ajarkanlah dengan kata yang benar dan tepat. Mulai dari pengenalan yang sederhana tangan, kaki, jari dan ketika dia sudah mulai mengerti kita ajarkan anggota tubuh pribadi.  Jangan menggantinya dengan kata-kata lain. Seperti kita tahu orang tua merasa tidak nyaman ketika menyebutkan penis, vagina, payudara dan puting  lalu menggantinya dengan istilah yang tidak tepat seperti terong, cabe, burung dan lain sebagainya. Dengan begitu ketika ada orang lain atau orang dewasa yang menyentuh dia bisa menceritakannya dengan benar.
2.     Pada usia 4th-5th  kita sudah bisa mengajarkan kepada anak kita bahwa penis, vagina, payudara dan puting itu adalah bagian yang pribadi yang harus dilindungi dan dijaga. Tidak ada yang boleh memegangnya atau melihatnya dan bila ada yang memaksa melakukannya, mereka harus memberitahu kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.
3.     Ajarkan kepada mereka berani mengatakan “tidak” bila ada orang lain yang ingin menyentuh bagian pribadinya. Atau berani menolak bila ada orang dewasa yang meminta mereka memegang atau memasukan bagian pribadi orang dewasa kedalam mulutnya.
4.    Ajarkan kepada mereka berani menolak pemberian orang lain bila itu untuk melihat atau memegang bagian pribadinya. Menolak diajak oleh orang yang tidak dikenal maupun yang dikenal di tempat sepi. Sering kali para pemangsa itu menggunakan trik memberikan permen atau kue untuk memperdaya anak-anak, atau mengajak bermain dan akhirnya terjadi pelecehan seksual. Ajarkan kepada mereka untuk berani lari meninggakan orang tersebut atau berteriak meminta bantuan kepada orang dewasa.  
5.    Latih mereka agar bisa mengekspresikan perasaannya, meyampaikan apa yang dirasakan. Tentang rasa takut, rasa tidak nyaman, bila ada bagian tubuhnya yang tidak nyaman atau sakit. Takut ketika dipukul temannya di sekolah atau teman bermainnya. Ketika mereka menceritakan apa yang dirasakan jangan pernah memarahi atau mengatakan dia cengeng atau anak yang lemah. Khususnya anak laki-laki yang selalu dilarang untuk menangis dan diminta untuk menjadi kuat sehingga ketika dia mengalami kekerasan mempunyai kecenderungan takut untuk bercerita.
6.   Beri pengertian bahwa tidak semua tindakan orang dewasa itu selalu benar dan diperbolehkan. Mereka tidak perlu takut menceritakan bila mereka menerima kekerasan atau pemaksaan oleh orang dewasa.  
7.  Biasakan kepada mereka untuk selalu menceritakan apa saja yang mereka alami dan tidak menyimpannya sendiri. Bila mereka sedang bercerita usahakan tidak mencela atau menegurnya sehingga anak menjadi takut untuk bercerita.
8.    Selalu amati anak anda sehingga anda tahu bila terjadi perubahan dalam dirinya baik secara emosional maupun fisik. Bila anak yang biasanya ceria, lincah dan banyak omong tiba-tiba menjadi pendiam dan gampang kaget atau takut. Segera adakan pendekatan dan minta dia bercerita.

Hambatan yang sering terjadi adalah seringkali orang tua tidak mempercayai kata-kata anak kecil. Atau ketika mereka bercerita orang tua malas mendengarkan atau tidak ada waktu untuk mendengarkan cerita mereka. Orang tua lebih sering melarang daripada mendorong anak untuk berani bercerita atau mengekspresikan diri.

Ketika anak sudah mulai sekolah, sebagai orang tua pastikan untuk aktif terlibat dengan proses pendidikan di sekolahnya. Mengikuti forum orangtua dan guru di sekolah sehingga bisa mengetahui bagaimana sistem pendidikannya, keamananan dan bagaimana lingkungan di sekolah. Bagaimana respon sekolah atau guru bila ada kekerasan terhadap anak didiknya. Apakah ada sejarah kekerasaan di sekolah.

Selalu beri rasa aman kepada anak anda sehingga dia merasa dilindungi dan ketika mereka mengalami sesuatu mereka akan berani untuk mengatakannya kepada Anda. Jangan pernah takut melaporkan kepada yang berwajib bila anak anda mengalami pelecehan seksual. Jangan biarkan pemangsa anak-anak bebas memangsa anak lain karena anda tidak melakukan tindakan.


Sebagai orang Dewasa kita juga mempunyai kewajiban untuk melindungi anak-anak meskipun itu bukan anaknya sendiri. Memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk mereka bertumbuh dan berkembang sampai akhirnya bisa melindungi dirinya sendiri. Kita harus ingat bahwa kemampuan mereka untuk melindungi diri sendiri terbatas dan kemampuan untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri masih belum sempurna. Karena mereka memiliki sedikit pengalaman hidup, anak-anak juga lebih mudah dieksploitasi, ditipu dan dipaksa dibandingkan dengan orang dewasa. Jadi tanggung jawab kita bersama sebagai orang dewasa untuk selalu memberikan keamanan buat anak-anak di dunia ini. Mari bersama-sama mencegah kekerasan terhadap Anak. Kalau bukan kita..lalu siapa?

0 comments:

Post a Comment